07 November 2008
12 September 2008
Objek Wisata Wih Ni Kulus butuh Lahan Parkir
Pintu Rime Gayo adalah sebuah Kecamatan yang menjadi Pintu Gerbang memasuki wilayah Tanoh Gayo, berada di daerah dataran tinggi yang dikenal sebagai dataran tinggi Gayo. Hawa daerahnya dinggin dan sejuk hingga menjadi daya tarik tersendiri sebagai daerah kunjungan wisata.
Menyambut kemeriahan Idhul Fitri, Tahun Baru 2009, dan Idhul Adha, sejumlah lokasi objek wisata alam di Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, mulai mempersiapkan sarana dan prasarana. Berdasarkan pengalaman di setiap akhir tahun lonjakan pengunjung di sejumlah lokasi wisata alam Pintu Rimba Gayo meningkat. Peningkatan itu juga berdampak pada jumlah kendaran parkir di lokasi-lokasi wisata.
Saat kemeriahan hari-hari besar Islam dan Tahun Baru, sumber pendapatan masyarakat di sekitar objek wisata selain berjualan juga dari hasil lahan parkir. Untuk saat ini di daerah Pintu Rime Gayo objek wisata yang paling banyak di banjiri pengunjung di setiap akhir tahunnya adalah objek wisata Wih Ni Kulus atau disebut dengan wisata Arul Kulus, Desa Blangrakal, Kilometer 45, jalan Bireuen-Takengon.
Secara langsung Arul Kulus telah membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Pada saat hari-hari besar itu ribuan orang membanjiri lokasi wisata ini. Sumber pendapatan masyarakat juga turut hidup dengan adanya objek wisata selain berjuala juga membuka lahan parkir. Beberapa pemuda Desa Blangrakal dan masyarakat korban konflik di Pintu Rime Gayo bekerja di objek wisata Wih Ni Kulus.
Pengelola objek wisata telah melakukan beberapa penataan di dalam lokasi sebagai persiapan kunjungan wisata akhir tahun. Dengan keterbatasan dana lokasi wisata belum dapat dikembangkan secara propesional. Pembersihan lahan yang selama ini dilakukan masih suwadaya dan gotong-royong dengan masyarakat sekitar.
Dalam rangka menyambut lonjakan pengunjung pada hari-hari besar ini, Arul Kulus selalu bermasalah dengan lahan parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Lonjakan pengunjung yang terjadi tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang masuk ke lokasi wisata sehingga pengunjung dari daerah-daerah luar enggan singgah di Arul Kulus.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pemerintah dalam penyempurnaan lokasi Arul Kulus adalah pelebaran badan jalan raya Bireuen-Takengin yang melintasi di kawasan itu. Selain itu pembangunan lahan parkir yang memadai perlu diciptakan selain pagar pengaman jalan.. Ini dilakukan sebagai langkah awal daerah dalam mendukung kunjungan wisata, Visit Tanoh Gayo.
Objek wisata Weh Ni Kulus memiliki potensi alam yang dapat dijadikan unggulan. Bila dikelola secara baik, Arul Kulus yang merupakan ‘panorama sungai di dasar lembah’ dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang lumayan baik untuk Kabupaten Bener Meriah. (Idrus Saputra)
Menyambut kemeriahan Idhul Fitri, Tahun Baru 2009, dan Idhul Adha, sejumlah lokasi objek wisata alam di Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, mulai mempersiapkan sarana dan prasarana. Berdasarkan pengalaman di setiap akhir tahun lonjakan pengunjung di sejumlah lokasi wisata alam Pintu Rimba Gayo meningkat. Peningkatan itu juga berdampak pada jumlah kendaran parkir di lokasi-lokasi wisata.
Saat kemeriahan hari-hari besar Islam dan Tahun Baru, sumber pendapatan masyarakat di sekitar objek wisata selain berjualan juga dari hasil lahan parkir. Untuk saat ini di daerah Pintu Rime Gayo objek wisata yang paling banyak di banjiri pengunjung di setiap akhir tahunnya adalah objek wisata Wih Ni Kulus atau disebut dengan wisata Arul Kulus, Desa Blangrakal, Kilometer 45, jalan Bireuen-Takengon.
Secara langsung Arul Kulus telah membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Pada saat hari-hari besar itu ribuan orang membanjiri lokasi wisata ini. Sumber pendapatan masyarakat juga turut hidup dengan adanya objek wisata selain berjuala juga membuka lahan parkir. Beberapa pemuda Desa Blangrakal dan masyarakat korban konflik di Pintu Rime Gayo bekerja di objek wisata Wih Ni Kulus.
Pengelola objek wisata telah melakukan beberapa penataan di dalam lokasi sebagai persiapan kunjungan wisata akhir tahun. Dengan keterbatasan dana lokasi wisata belum dapat dikembangkan secara propesional. Pembersihan lahan yang selama ini dilakukan masih suwadaya dan gotong-royong dengan masyarakat sekitar.
Dalam rangka menyambut lonjakan pengunjung pada hari-hari besar ini, Arul Kulus selalu bermasalah dengan lahan parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Lonjakan pengunjung yang terjadi tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang masuk ke lokasi wisata sehingga pengunjung dari daerah-daerah luar enggan singgah di Arul Kulus.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pemerintah dalam penyempurnaan lokasi Arul Kulus adalah pelebaran badan jalan raya Bireuen-Takengin yang melintasi di kawasan itu. Selain itu pembangunan lahan parkir yang memadai perlu diciptakan selain pagar pengaman jalan.. Ini dilakukan sebagai langkah awal daerah dalam mendukung kunjungan wisata, Visit Tanoh Gayo.
Objek wisata Weh Ni Kulus memiliki potensi alam yang dapat dijadikan unggulan. Bila dikelola secara baik, Arul Kulus yang merupakan ‘panorama sungai di dasar lembah’ dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang lumayan baik untuk Kabupaten Bener Meriah. (Idrus Saputra)
10 September 2008
MASYARAKAT LINGE TUNTUT GANTI RUGI RUGI

Masyarakat 5 kampung yakni Kampung Linge, Pertik, Delung Sekinel, Reje Payung dan Kampung Jamat di Kecamatan Linge menyesalkan sikap para penentu kebijakan di wilayah ini terkait kasus penyimpangan bantuan kambing bantuan BRR beberapa waktu lalu di kelima kampung tersebut.
Dalam pemberitaan beberapa harian dan tabloid beberapa waktu yang lalu, Forum Aliansi Peduli Linge diberitakan menemukan indikasi berbagai penyimpangan dalam program Pemberdayaan Ekonomi Produktif di Lima Kampung di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Lembaga tersebut menemukan, penyimpangan bantuan dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias senilai Rp.1.5 miliar. Bantuan tersebut dikelola LSM Perantar dan kambing-kambing tersebut serta kambing setempat mendadak mati secara missal. Dinas terkait di Aceh sontak seperti kebakaran jenggot, dan pada pertengahan Mei lalu diturunkan tim dari Dinas Peternakan Provinsi NAD didampingi Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Tengah turun ke Lima Kampung terpencil tersebut untuk memastikan penyebab kematian secara massal kambing-kambing bantuan tersebut yang diikuti dengan kematian ribuan kambing setempat. Setelah mendiagnosa penyakit, tim inipun mengeluarkan statemen bahwa “Kematian Kambing BRR Bukan Wabah”. Hamdani seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Takengon (STIHMAT) yang dikenal sangat peduli dengan urusan kepentingan masyarakat bawah, beberapa hari yang lalu berkunjung kelima kampung tersebut dan sangat menyayangkan tidak ditindaklanjutinya kasus besar tersebut oleh pihak terkait. “bagaimana ini, mengundurkan diri seorang Bupati, pada ribut semua, tapi saat rakyat miskin tertindas, semua diam seolah tak tau apa-apa”, cetus Hamdani kesal.
Kambing-kambing bantuan BRR NAD Nias diperuntukkan bagi lima kampung melalui lima koperasi di Kecamatan Linge yakni Kampung Linge, Pertik, Delung Sekinel, Reje Payung dan Kampung Jamat Kecamatan Linge. Proyek pemberdayaan masyarakat miskin itu bersumber dana BRR NAD Nias dari DIPA tahun anggaran 2007 sebesar Rp 1,5 miliar.
Bukan hanya kambing bantuan yang ludes, kambing setempat juga habis, rata-rata 400an ekor mati perkampung dan diperkirakan tidak kurang dari duaribuan ekor kambing setempat habis. Bila harga kambing saat ini mencapai 1 juta Rupiah, maka total kerugian masyarakat miskin mencapai 2 milyar, ungkap Hamdani. “mana tanggung jawab stakeholdernya ?” Tanya Hamdani.
Seorang tokoh masyarakat kawasan tersebut, M. Rum menyatakan ancaman akan lapor ke pihak berwajib bila sampai habis Ramadhan ini persoalan belum selesai. “kami tidak harap lagi bantuan tersebut, tapi ternak kami yang mati akibat tertular itu bagaimana ?” tanyanya didampingi Hamdani dan sejumlah tokoh masyarakat kelima kampung tersebut.
Kepala Kampung Jamat, Jamaluddin juga menyatakan kekecewaannya terhadap Program Bantuan BRR tersebut ke wilayahnya. Bukan untung yang kami dapat tapi malah buntung, ungkap Jamaluddin.
Selanjutnya Hamdani menambahkan, “Kalau begini Program Swasembada Daging 2010 jadi tidak jelas dan halau kemiskinan malah kabur di Aceh Tengah. Karena kawasan ini merupakan Kawasan Ternak sejak dahulu dan paling marjinal di Aceh Tengah”.
Ikhwanussufa, selaku Kepala Satker Agama Sosial Budaya BRR NAD Nias Regional III dalam pernyataannya di Media Massa pertengahan Mei lalu telah menyebutkan bahwa proyek bantuan kambing di Kecamatan Linge, analisis CPCL tidak pernah dilakukan., Ikhwanussufa mengatakan, bila LSM Perantar telah membuat kesalahan besar, LSM yang ditunjuk sebagai pendamping malah bertindak sebagai pelaksana. LSM Perantar membeli kambing kambing itu dan diserahkan kepada warga, padahal, dalam juklaknya, tidak berniat baik untuk memperbaiki kinerjanya sebagai tenaga pendamping, maka LSM Perantar harus menyetor sejumlah kerugian kepada kas negara. Bahkan Ikhwanussufa menegaskan “Kami akan meneruskan kasus kamatian kambing kambing bantuan itu untuk diproses hukum,” ujarnya. Tapi kenyataannya hingga saat ini belum proses apapun baik proses hokum maupun proses ganti rugi bagi masyarakat.
Anehnya, Ketua LSM Perantar, Dwi Putra seperti pernyataannya yang dikutif dari sebuah tabloid menyatakan semua tudingan-tudingan yang diarahkan kepadanya tidak benar. “masalah kambing mati, itu tanggung jawab Koperasi sendiri, mereka sendiri yang belanja” ungkapnya.
Selanjutnya Hamdani mengungkapkan keheranannya, kenapa tokoh-tokoh masyarakat di Aceh Tengah tidak ada yang peduli, seperti anggota dewan misalnya. “caleg-caleg ndak usah kampanye kesana, toh saat mereka butuh pembelaan ndak ada yang peduli” ketus Hamdani prihatin.
Dalam pemberitaan beberapa harian dan tabloid beberapa waktu yang lalu, Forum Aliansi Peduli Linge diberitakan menemukan indikasi berbagai penyimpangan dalam program Pemberdayaan Ekonomi Produktif di Lima Kampung di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Lembaga tersebut menemukan, penyimpangan bantuan dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias senilai Rp.1.5 miliar. Bantuan tersebut dikelola LSM Perantar dan kambing-kambing tersebut serta kambing setempat mendadak mati secara missal. Dinas terkait di Aceh sontak seperti kebakaran jenggot, dan pada pertengahan Mei lalu diturunkan tim dari Dinas Peternakan Provinsi NAD didampingi Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Tengah turun ke Lima Kampung terpencil tersebut untuk memastikan penyebab kematian secara massal kambing-kambing bantuan tersebut yang diikuti dengan kematian ribuan kambing setempat. Setelah mendiagnosa penyakit, tim inipun mengeluarkan statemen bahwa “Kematian Kambing BRR Bukan Wabah”. Hamdani seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Takengon (STIHMAT) yang dikenal sangat peduli dengan urusan kepentingan masyarakat bawah, beberapa hari yang lalu berkunjung kelima kampung tersebut dan sangat menyayangkan tidak ditindaklanjutinya kasus besar tersebut oleh pihak terkait. “bagaimana ini, mengundurkan diri seorang Bupati, pada ribut semua, tapi saat rakyat miskin tertindas, semua diam seolah tak tau apa-apa”, cetus Hamdani kesal.
Kambing-kambing bantuan BRR NAD Nias diperuntukkan bagi lima kampung melalui lima koperasi di Kecamatan Linge yakni Kampung Linge, Pertik, Delung Sekinel, Reje Payung dan Kampung Jamat Kecamatan Linge. Proyek pemberdayaan masyarakat miskin itu bersumber dana BRR NAD Nias dari DIPA tahun anggaran 2007 sebesar Rp 1,5 miliar.
Bukan hanya kambing bantuan yang ludes, kambing setempat juga habis, rata-rata 400an ekor mati perkampung dan diperkirakan tidak kurang dari duaribuan ekor kambing setempat habis. Bila harga kambing saat ini mencapai 1 juta Rupiah, maka total kerugian masyarakat miskin mencapai 2 milyar, ungkap Hamdani. “mana tanggung jawab stakeholdernya ?” Tanya Hamdani.
Seorang tokoh masyarakat kawasan tersebut, M. Rum menyatakan ancaman akan lapor ke pihak berwajib bila sampai habis Ramadhan ini persoalan belum selesai. “kami tidak harap lagi bantuan tersebut, tapi ternak kami yang mati akibat tertular itu bagaimana ?” tanyanya didampingi Hamdani dan sejumlah tokoh masyarakat kelima kampung tersebut.
Kepala Kampung Jamat, Jamaluddin juga menyatakan kekecewaannya terhadap Program Bantuan BRR tersebut ke wilayahnya. Bukan untung yang kami dapat tapi malah buntung, ungkap Jamaluddin.
Selanjutnya Hamdani menambahkan, “Kalau begini Program Swasembada Daging 2010 jadi tidak jelas dan halau kemiskinan malah kabur di Aceh Tengah. Karena kawasan ini merupakan Kawasan Ternak sejak dahulu dan paling marjinal di Aceh Tengah”.
Ikhwanussufa, selaku Kepala Satker Agama Sosial Budaya BRR NAD Nias Regional III dalam pernyataannya di Media Massa pertengahan Mei lalu telah menyebutkan bahwa proyek bantuan kambing di Kecamatan Linge, analisis CPCL tidak pernah dilakukan., Ikhwanussufa mengatakan, bila LSM Perantar telah membuat kesalahan besar, LSM yang ditunjuk sebagai pendamping malah bertindak sebagai pelaksana. LSM Perantar membeli kambing kambing itu dan diserahkan kepada warga, padahal, dalam juklaknya, tidak berniat baik untuk memperbaiki kinerjanya sebagai tenaga pendamping, maka LSM Perantar harus menyetor sejumlah kerugian kepada kas negara. Bahkan Ikhwanussufa menegaskan “Kami akan meneruskan kasus kamatian kambing kambing bantuan itu untuk diproses hukum,” ujarnya. Tapi kenyataannya hingga saat ini belum proses apapun baik proses hokum maupun proses ganti rugi bagi masyarakat.
Anehnya, Ketua LSM Perantar, Dwi Putra seperti pernyataannya yang dikutif dari sebuah tabloid menyatakan semua tudingan-tudingan yang diarahkan kepadanya tidak benar. “masalah kambing mati, itu tanggung jawab Koperasi sendiri, mereka sendiri yang belanja” ungkapnya.
Selanjutnya Hamdani mengungkapkan keheranannya, kenapa tokoh-tokoh masyarakat di Aceh Tengah tidak ada yang peduli, seperti anggota dewan misalnya. “caleg-caleg ndak usah kampanye kesana, toh saat mereka butuh pembelaan ndak ada yang peduli” ketus Hamdani prihatin.
30 Juli 2008
Peternakan Sapi Bali di Aceh Tengah
Diawali sejak tahun 1983, Almarhum M. Beni Banta Cut selaku Bupati waktu itu membawa 6 ekor sapi Bali ke Aceh Tengah dan diternakkan di Desa Paya Tumpi Kecamatan Lut Tawar. Selanjutnya tahun 1994, Program Bantuan Presiden (Banpres) melalui Pemerintah Provinsi DI. Aceh menyalurkan 100 ekor sapi Bali di beberapa tempat di Aceh Tengah antara lain di Belang Gele, Pedemun, Toweren, Pinangan, Umang dan Jagong Jeget. Yang bertahan sampai sekarang adalah di Jagong Jeget, Paya Tumpi dan Pinangan, sedang di kampung lainnya tidak berhasil. Saat itu bibit sapi Bali (bos javanicus) didatangkan dari Nusa Penida Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal sebagai sentra produksi sapi Bali di Indonesia, hal tersebut diungkapkan Abdul Kadir, SP, Kabid Produksi dan Usaha Dinas Perikanan dan Peternakan kabupaten Aceh Tengah. “Pak Beni merupakan tokoh peternakan Sapi Bali di Aceh Tengah” cetus Abdul Kadir.
Faktor kegagalan utama perkembangan sapi bali di Aceh Tengah sebelumnya diakibatkan konflik Aceh yang berkepanjangan yang berakibat para peternak kesulitan dalam menafkahi keluarga sehingga ternak-ternak yang mereka miliki dijual untuk menopang hidup waktu itu. Akibat Eksodus yang terjadi juga menjadi penyebab utama, masyarakat dari pedalaman cenderung berpindah mencari tempat yang aman yang tentunya membutuhkan biaya, tempat yang baru belum tentu cocok untuk beternak sapi Bali, papar Abdul Kadir.
Pada era sebelum konplik Aceh 1998-2000, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Tengah sudah cukup signifikan disetorkan ke Kas Pemda sebut Abdul Kadir tanpa menyebut jumlahnya.
Populasi sapi Bali di Aceh Tengah kini mencapai 4000-an ekor belum termasuk sapi Program Ketapang, jumlah ini dirinci 800-1000-an ekor sapi Bali milik masyarakat sendiri dan sekitar 3000-an ekor bantuan sosial tahun 2006 yang lalu sebut Abdul Kadir. Angka ini berdasarkan perkiraan saja, pasca konplik kita belum memperoleh data valid tambahnya.
Sapi Pelopor
Sebutan sang Pelopor merupakan sebutan populer bagi sapi Bali, hal ini karena kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Dengan pemeliharaan seadanya atau dilepas di padang penggembalaan sapi Bali dapat menghasilkan pertambahan berat badan sampai 0,3 – 0,5 kg perhari dan mencapai 0,8 kg bila dilakukan pemeliharaan intensif dengan pola penggemukan di kandang, diberi pakan yang cukup ditambah dengan konsentrat.
Sapi Bali dinilai oleh sejumlah pakar peternakan mempunyai tingkat kesuburan tinggi, mampu melahirkan pedet 56 ekor tiap 100 ekor sapi betina. Interval kelahiran juga sangat singkat yakni 1 tahun lebih kurang. Sayangnya program Inseminasi Buatan (IB) atau lebih dikenal dengan Kawin Suntik belum dilakukan samasekali. Menurut Drh. Rahmandi, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tengah tahun 2008 ini program IB mulai dilakukan.
Dari sekian banyak sapi local Indonesia termasuk sapi Aceh, sapi Bali dinilai beberapa kalangan memiliki karakteristik yang lebih baik, disamping kemampuan beradaptasi juga keunggulan-keunggulan lain seperti calving interval (masa birahi) yang lebih pendek, perawatannya juga lebih sederhana serta lebih jinak dibanding sapi lain. “Performance phisiknya juga lebih menarik” jelas Rahmandi.
Penyakit
Kelemahan sapi Bali adalah peka terhadap beberapa penyakit tertentu. Yang pertama penyakit ingusan (snot ziekte) atau malignant catarrhal fever (MCF). Di antara ras sapi, sapi Bali paling peka terhadap infeksi virus MCF. Penyakit ini tidak menular dari sapi ke sapi, tetapi virus penyebabnya ditularkan domba (biri-biri) yang bertindak sebagai pembawa virus, tanpa menderita sakit. Gejala sebelum kematian tidak tampak sama sekali, jelas Drh. Rahmandi. Pencegahannya sederhana tapi agak sulit karena harus berhadapan dengan masyarakat pemilik ternak domba, “Sapi Bali jangan bergabung dengan domba dalam satu kawasan, itu saja”, tegas Rahmandi. Di Kawasan Peternakan Ketapang yang berbatasan langsung dengan Kampung Owaq, kita sudah lakukan program depopulasi domba. Sebelumnya cukup banyak masyarakat yang memelihara domba. “Suatu kegilaan bila sapi Bali berdampingan dengan biri-biri”, tegasnya.
Pantauan Tabloid Sipil, dibeberapa daerah di Aceh Tengah seperti di kampung Mungkur dan Linge kecamatan Linge, pihak BRR regional III menyalurkan sapi Bali di kawasan dimana domba masih berkeliaran disana sini. Dari keterangan penduduk sapi-sapi Bali bantuan tersebut sebagian besar sudah mati.
Drh Rahmandi, pegawai Peternakan Aceh Tengah menyebutkan, Tahun 1964 muncul suatu wabah penyakit baru yang dikenal sebagai penyakit jembrana. Penyakit ini sangat fatal pada sapi Bali, tetapi sapi lain lebih tahan. Puluhan ribu sapi Bali di Bali mati dalam tempo singkat ketika wabah pertama timbul. Baru pada tahun 1991, sebuah tim penyidik berhasil mengidentifikasi virus lenti sebagai penyebab penyakit jembrana. Virus ini masih satu famili dengan (virus) HIV, penyebab penyakit AIDS pada manusia, mudah-mudahan di daerah kita penyakit ini jangan sampai menjangkiti ternak masyarakat papar Rahmandi berharap.
Rahmandi menambahkan bahwa Penyakit lain bernama Bali Ziekte karena banyak ditemukan pada sapi bali. Penyakit disebabkan oleh tanaman yang mampu merusak sel-sel hati (hepatotoksik) dan menimbulkan dermatitis fotosensitisasi. Pada musim kemarau, apabila hijauan makanan ternak langka, sapi Bali akan makan tanaman yang tidak lazim dimakan. Karenanya saat menjelang musim kemarau sebaiknya ternak sapi Bali diawasi dan dipelihara dengan baik terutama menyangkut penyediaan pakan, jelas Rahmandi.
Menyangkut penyakit yang biasa menyerang sapi Bali berupa penyakit Sura dan Brucellosis serta penyakit internal lainnya tapi masih dalam stadium yang tidak membahayakan. Jelas Rahmandi. Kasus penyakit dan berakibat kematian sangat minim, kalaupun ada kematian biasanya disebabkan karena salah penanganan oleh peternak sendiri misalnya terlambat melapor kepada petugas medis sehingga terlambat untuk ditangani. Sangat jarang terjadi kematian ternak bila peternaknya telaten, pungkas Rahmandi.
Peternak ketagihan
Salah seorang peternak, Amrozi (45) penduduk Desa Pinangan mengaku merupakan peternak yang memelihara sapi Bali di Aceh Tengah untuk pertama kali tahun 1997, dan memelihara ternaknya dengan pola perbibitan yakni dengan menjual anak sapi (pedet) sebagai sumber penghasilan. Menurutnya ternak bibit yang diperolehnya berjumlah 2 ekor dengan pola terima 1 kembali 2 dan telah mengembalikan hasil ternak pemerintah tersebut sejumlah 10 ekor, artinya Amrozi sudah memperoleh anak sapi sejumlah 15 ekor keturunan sapi Bali. Kini Amrozi memelihara 3 ekor, dan dia tidak memaksakan diri untuk memelihara lebih banyak karena beternak merupakan usaha sampingan.
Seorang peternak lain di Kampung Paya Serngi Kecamatan Kebayakan, Aman Shafa (40) mengaku ketagihan memelihara sapi Bali yang ditekuni sejak tahun 2004 yang lalu. Menurut Aman Shafa , hal ini disebabkan setiap tahun harga jual jenis sapi bali terus meningkat. Selain itu, setiap sembilan bulan sekali, sapi bali dipastikan sudah beranak. “Seekor sapi bali berumur 8 bulan saat ini dibeli Rp.5-6 juta”, tegas Aman Shafa yang saat ini memelihara delapan ternak dan dipelihara oleh tetangganya yang dianggap kurang mampu dengan sistim bagi hasil.
Dikatakan Aman Shafa beternak sapi bali sangat ideal bagi masyarakat Aceh Tengah karena tersedianya pakan yang cukup disekitar tempatnya tinggal yang masih banyak terdapat lahan tidur.
Selain itu, lanjut Aman Shafa sapi bali sangat mudah dipelihara dan tidak rewel. “Tanpa kandang sekalipun, sapi bali masih dapat menghasilkan anak setiap sembilan bulan”, tambah Aman Shafa.
Boy Abimayu (37) warga Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan memelihara 4 ekor betina dan 2 ekor jantan, dalam setahunnya minimal bertambah 4 ekor anak sapi (pedet). Biasanya saya langsung jual pedet betina bila umurnya sudah 1 tahun lebih seharga minimal 4 juta rupiah, dan jantan dihargai lebih dari 5 juta perekor, ungkap Boy.
Jual beli sapi Bali sampai saat ini cenderung masih untuk dipelihara kembali, belum untuk dipotong, kecuali sifatnya potong paksa karena sakit membahayakan nyawa sapi itu sendiri.
Frekuensi Pemotongan
Petugas Rumah Potong Hewan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tengah, Hadi Isra dalam keterangan kepada mingguan ini menyatakan bahwa setiap bulannya sapi Bali dipotong di RPH Takengon sangat sedikit hanya 1 ekor dalam sebulan. Lain halnya dengan kerbau mencapai 3 ekor perhari dan pada hari-hari besar Islam bisa lebih.
Masyarakat Aceh Tengah lebih menyukai daging kerbau ketimbang daging sapi, akan tetapi saat ini daging sapi Bali sudah mulai disukai walau masih kalah dengan daging Kerbau, jelas Hadi.
Harga daging di pajak daging Takengon saat ini Rp. 70.000,-/ kg baik daging kerbau maupun sapi. Di provinsi kita, NAD harga daging tertinggi di dunia, tambahnya.
Program nasional Swasembada Daging 2010 dan Sapi Bali di Peternakan Ketapang
Kawasan Peternakan Terpadu Ketapang merupakan ide visioner sebut DR. Luki Abdullah Dekan Fakultas Peternakan IPB Bogor saat berkunjung ke Ketapang tahun lalu. Prof. Soemitro dari FKH UGM Yogyakarta menyebutnya Gayo Great Farm (GGF) pada awal tahun 2007 lalu.
Sangat beralasan kedua pakar peternakan dari dua universitas ternama di Indonesia menyebutnya demikian. “Sejauh yang saya tau, belum pernah ada bupati yang berani buat program seperti ini” ujar Luki Abdullah di Ketapang dalam rangkaian kegiatan Workshop tiga universitas (IPB, Unsyiah dan Gouttingen Jerman pertengahan tahun 2007 lalu. Selanjutnya Luki katakan “Program ini harus didukung dan harus berhasil” tegasnya.
Kini 100 KK telah ditempatkan sebagai peternak dan telah diberi ternak 15 ekor per KK, sampai tahun 2007, 790-an ekor sapi Bali telah didistibusikan disana sejak tahun 2005 dari berbagai sumber baik pusat, provinsi maupun APBK Aceh Tengah. Kritik dan sorotanpun mengalir akibat anggapan program ini belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan sementara anggaran terus mengalir mencapai puluhan milyar.
Semua pihak kini menunggu akankah Program Ketapang mampu diposisi terdepan di Provinsi ini dalam menjawab tantangan Swasembada Daging 2010 ?. (Khalisuddin)
Faktor kegagalan utama perkembangan sapi bali di Aceh Tengah sebelumnya diakibatkan konflik Aceh yang berkepanjangan yang berakibat para peternak kesulitan dalam menafkahi keluarga sehingga ternak-ternak yang mereka miliki dijual untuk menopang hidup waktu itu. Akibat Eksodus yang terjadi juga menjadi penyebab utama, masyarakat dari pedalaman cenderung berpindah mencari tempat yang aman yang tentunya membutuhkan biaya, tempat yang baru belum tentu cocok untuk beternak sapi Bali, papar Abdul Kadir.
Pada era sebelum konplik Aceh 1998-2000, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Tengah sudah cukup signifikan disetorkan ke Kas Pemda sebut Abdul Kadir tanpa menyebut jumlahnya.
Populasi sapi Bali di Aceh Tengah kini mencapai 4000-an ekor belum termasuk sapi Program Ketapang, jumlah ini dirinci 800-1000-an ekor sapi Bali milik masyarakat sendiri dan sekitar 3000-an ekor bantuan sosial tahun 2006 yang lalu sebut Abdul Kadir. Angka ini berdasarkan perkiraan saja, pasca konplik kita belum memperoleh data valid tambahnya.
Sapi Pelopor
Sebutan sang Pelopor merupakan sebutan populer bagi sapi Bali, hal ini karena kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Dengan pemeliharaan seadanya atau dilepas di padang penggembalaan sapi Bali dapat menghasilkan pertambahan berat badan sampai 0,3 – 0,5 kg perhari dan mencapai 0,8 kg bila dilakukan pemeliharaan intensif dengan pola penggemukan di kandang, diberi pakan yang cukup ditambah dengan konsentrat.
Sapi Bali dinilai oleh sejumlah pakar peternakan mempunyai tingkat kesuburan tinggi, mampu melahirkan pedet 56 ekor tiap 100 ekor sapi betina. Interval kelahiran juga sangat singkat yakni 1 tahun lebih kurang. Sayangnya program Inseminasi Buatan (IB) atau lebih dikenal dengan Kawin Suntik belum dilakukan samasekali. Menurut Drh. Rahmandi, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tengah tahun 2008 ini program IB mulai dilakukan.
Dari sekian banyak sapi local Indonesia termasuk sapi Aceh, sapi Bali dinilai beberapa kalangan memiliki karakteristik yang lebih baik, disamping kemampuan beradaptasi juga keunggulan-keunggulan lain seperti calving interval (masa birahi) yang lebih pendek, perawatannya juga lebih sederhana serta lebih jinak dibanding sapi lain. “Performance phisiknya juga lebih menarik” jelas Rahmandi.
Penyakit
Kelemahan sapi Bali adalah peka terhadap beberapa penyakit tertentu. Yang pertama penyakit ingusan (snot ziekte) atau malignant catarrhal fever (MCF). Di antara ras sapi, sapi Bali paling peka terhadap infeksi virus MCF. Penyakit ini tidak menular dari sapi ke sapi, tetapi virus penyebabnya ditularkan domba (biri-biri) yang bertindak sebagai pembawa virus, tanpa menderita sakit. Gejala sebelum kematian tidak tampak sama sekali, jelas Drh. Rahmandi. Pencegahannya sederhana tapi agak sulit karena harus berhadapan dengan masyarakat pemilik ternak domba, “Sapi Bali jangan bergabung dengan domba dalam satu kawasan, itu saja”, tegas Rahmandi. Di Kawasan Peternakan Ketapang yang berbatasan langsung dengan Kampung Owaq, kita sudah lakukan program depopulasi domba. Sebelumnya cukup banyak masyarakat yang memelihara domba. “Suatu kegilaan bila sapi Bali berdampingan dengan biri-biri”, tegasnya.
Pantauan Tabloid Sipil, dibeberapa daerah di Aceh Tengah seperti di kampung Mungkur dan Linge kecamatan Linge, pihak BRR regional III menyalurkan sapi Bali di kawasan dimana domba masih berkeliaran disana sini. Dari keterangan penduduk sapi-sapi Bali bantuan tersebut sebagian besar sudah mati.
Drh Rahmandi, pegawai Peternakan Aceh Tengah menyebutkan, Tahun 1964 muncul suatu wabah penyakit baru yang dikenal sebagai penyakit jembrana. Penyakit ini sangat fatal pada sapi Bali, tetapi sapi lain lebih tahan. Puluhan ribu sapi Bali di Bali mati dalam tempo singkat ketika wabah pertama timbul. Baru pada tahun 1991, sebuah tim penyidik berhasil mengidentifikasi virus lenti sebagai penyebab penyakit jembrana. Virus ini masih satu famili dengan (virus) HIV, penyebab penyakit AIDS pada manusia, mudah-mudahan di daerah kita penyakit ini jangan sampai menjangkiti ternak masyarakat papar Rahmandi berharap.
Rahmandi menambahkan bahwa Penyakit lain bernama Bali Ziekte karena banyak ditemukan pada sapi bali. Penyakit disebabkan oleh tanaman yang mampu merusak sel-sel hati (hepatotoksik) dan menimbulkan dermatitis fotosensitisasi. Pada musim kemarau, apabila hijauan makanan ternak langka, sapi Bali akan makan tanaman yang tidak lazim dimakan. Karenanya saat menjelang musim kemarau sebaiknya ternak sapi Bali diawasi dan dipelihara dengan baik terutama menyangkut penyediaan pakan, jelas Rahmandi.
Menyangkut penyakit yang biasa menyerang sapi Bali berupa penyakit Sura dan Brucellosis serta penyakit internal lainnya tapi masih dalam stadium yang tidak membahayakan. Jelas Rahmandi. Kasus penyakit dan berakibat kematian sangat minim, kalaupun ada kematian biasanya disebabkan karena salah penanganan oleh peternak sendiri misalnya terlambat melapor kepada petugas medis sehingga terlambat untuk ditangani. Sangat jarang terjadi kematian ternak bila peternaknya telaten, pungkas Rahmandi.
Peternak ketagihan
Salah seorang peternak, Amrozi (45) penduduk Desa Pinangan mengaku merupakan peternak yang memelihara sapi Bali di Aceh Tengah untuk pertama kali tahun 1997, dan memelihara ternaknya dengan pola perbibitan yakni dengan menjual anak sapi (pedet) sebagai sumber penghasilan. Menurutnya ternak bibit yang diperolehnya berjumlah 2 ekor dengan pola terima 1 kembali 2 dan telah mengembalikan hasil ternak pemerintah tersebut sejumlah 10 ekor, artinya Amrozi sudah memperoleh anak sapi sejumlah 15 ekor keturunan sapi Bali. Kini Amrozi memelihara 3 ekor, dan dia tidak memaksakan diri untuk memelihara lebih banyak karena beternak merupakan usaha sampingan.
Seorang peternak lain di Kampung Paya Serngi Kecamatan Kebayakan, Aman Shafa (40) mengaku ketagihan memelihara sapi Bali yang ditekuni sejak tahun 2004 yang lalu. Menurut Aman Shafa , hal ini disebabkan setiap tahun harga jual jenis sapi bali terus meningkat. Selain itu, setiap sembilan bulan sekali, sapi bali dipastikan sudah beranak. “Seekor sapi bali berumur 8 bulan saat ini dibeli Rp.5-6 juta”, tegas Aman Shafa yang saat ini memelihara delapan ternak dan dipelihara oleh tetangganya yang dianggap kurang mampu dengan sistim bagi hasil.
Dikatakan Aman Shafa beternak sapi bali sangat ideal bagi masyarakat Aceh Tengah karena tersedianya pakan yang cukup disekitar tempatnya tinggal yang masih banyak terdapat lahan tidur.
Selain itu, lanjut Aman Shafa sapi bali sangat mudah dipelihara dan tidak rewel. “Tanpa kandang sekalipun, sapi bali masih dapat menghasilkan anak setiap sembilan bulan”, tambah Aman Shafa.
Boy Abimayu (37) warga Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan memelihara 4 ekor betina dan 2 ekor jantan, dalam setahunnya minimal bertambah 4 ekor anak sapi (pedet). Biasanya saya langsung jual pedet betina bila umurnya sudah 1 tahun lebih seharga minimal 4 juta rupiah, dan jantan dihargai lebih dari 5 juta perekor, ungkap Boy.
Jual beli sapi Bali sampai saat ini cenderung masih untuk dipelihara kembali, belum untuk dipotong, kecuali sifatnya potong paksa karena sakit membahayakan nyawa sapi itu sendiri.
Frekuensi Pemotongan
Petugas Rumah Potong Hewan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tengah, Hadi Isra dalam keterangan kepada mingguan ini menyatakan bahwa setiap bulannya sapi Bali dipotong di RPH Takengon sangat sedikit hanya 1 ekor dalam sebulan. Lain halnya dengan kerbau mencapai 3 ekor perhari dan pada hari-hari besar Islam bisa lebih.
Masyarakat Aceh Tengah lebih menyukai daging kerbau ketimbang daging sapi, akan tetapi saat ini daging sapi Bali sudah mulai disukai walau masih kalah dengan daging Kerbau, jelas Hadi.
Harga daging di pajak daging Takengon saat ini Rp. 70.000,-/ kg baik daging kerbau maupun sapi. Di provinsi kita, NAD harga daging tertinggi di dunia, tambahnya.
Program nasional Swasembada Daging 2010 dan Sapi Bali di Peternakan Ketapang
Kawasan Peternakan Terpadu Ketapang merupakan ide visioner sebut DR. Luki Abdullah Dekan Fakultas Peternakan IPB Bogor saat berkunjung ke Ketapang tahun lalu. Prof. Soemitro dari FKH UGM Yogyakarta menyebutnya Gayo Great Farm (GGF) pada awal tahun 2007 lalu.
Sangat beralasan kedua pakar peternakan dari dua universitas ternama di Indonesia menyebutnya demikian. “Sejauh yang saya tau, belum pernah ada bupati yang berani buat program seperti ini” ujar Luki Abdullah di Ketapang dalam rangkaian kegiatan Workshop tiga universitas (IPB, Unsyiah dan Gouttingen Jerman pertengahan tahun 2007 lalu. Selanjutnya Luki katakan “Program ini harus didukung dan harus berhasil” tegasnya.
Kini 100 KK telah ditempatkan sebagai peternak dan telah diberi ternak 15 ekor per KK, sampai tahun 2007, 790-an ekor sapi Bali telah didistibusikan disana sejak tahun 2005 dari berbagai sumber baik pusat, provinsi maupun APBK Aceh Tengah. Kritik dan sorotanpun mengalir akibat anggapan program ini belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan sementara anggaran terus mengalir mencapai puluhan milyar.
Semua pihak kini menunggu akankah Program Ketapang mampu diposisi terdepan di Provinsi ini dalam menjawab tantangan Swasembada Daging 2010 ?. (Khalisuddin)
04 Juli 2008
CABC DAN VisTaGa

Anggota Central Aceh Bicycle Community (CABC) bergabung bersama LSM. Visit Tanoh Gayo (VisTaga) mendaki Pengunungan di Kampung Luang Kecamatan Pegasing Aceh Tengah dalam rangka investigasi keberadaan Wih Osop (red. Gayo : Air Hilang) di kawasan hutan desa tersebut (Minggu, 18 Juni 2008).
Setiap Minggunya kedua lembaga ini melakukan kegiatan serupa disamping untuk kesehatan juga dalam upaya menggali potensi-potensi wisata yang ada di Tanoh Gayo.
Pegiat LSM VisTaga terdiri dari unsur Pers, Olahragawan, Pengusaha, PNS, photografer dan mahasiswa. Beberapa waktu yang lalu, Lembaga ini menemukan Anggrek Kantung Semar yang hidup berdampingan di Gunung Oregon.
Sekretaris LSM VisTaga Kh. A. Zaghlul, menyebutkan bahwa Tanoh Gayo kaya dengan potensi wisata, akan tetapi tidak terdata dan terekspose dengan baik kepada dunia luar. Karenanya dengan wadah ini diharapkan akan dapat memberi rekomendasi yang bermanfaat akan potensi-potensi yang ada. Beberapa hari yang lalu kita juga buat kegiatan pembuatan grafiti “Visit Tanoh Gayo 2008” di jalan raya pintu gerbang memasuki kota Takengon, kegiatan ini diprakarsai oleh rekan-rekan LSM serta pihak-pihak yang bersimpati kepada program kita. Dengan dana kumpul-kumpul jadi grafitinya. Mari kita dukung program Visit Aceh Tengah 2008 serunya.
Sementara koordinator trek CABC, Ir. Win. RB, menyebutkan bahwa setiap minggu kita lakukan perjalanan ke tempat-tempat yang punya potensi wisata dan tempat bersejarah. Kita juga terus mengkampayekan Bike to Work (bersepeda ke tempat kerja), Bike for Health (bersepeda untuk sehat) serta Bike for Tourism (wisata dengan bersepeda) sejak PORDA X tahun 2006 yang lalu. Syukurlah kegiatan ini dapat respon positif dari berbagai pihak dan sampai saat ini simpati dan animo terus mengalir ungkap Win. RB.
Hasil perjalanan kami dapat di akses melalui dunia maya dengan alamat antara lain : http://www.gayolinge.com/, gayobicycle.multiply.com dan winbathin.multiply.com tambah Win. RB.
LSM VisTaga dan CABC juga siap menjadi guide bagi wisatawan atau ilmuwan yang berkunjung dan melakukan penelitian di Aceh Tengah. Kedepan kita sudah dan akan jalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam hal penyewaan perlengkapan seperti fasilitas sepeda jenis MTB standar kerjasama dengan ISSI Aceh Tengah, Sepeda Motor, Mobil, perahu tradisional, dan perlengkapan selam (diving) kerjasama dengan POSSI Aceh Tengah dan fasilitas boat kerjasama dengan Instansi Pemerintah terkait. jelas Kh. A. Zaghlul
Setiap Minggunya kedua lembaga ini melakukan kegiatan serupa disamping untuk kesehatan juga dalam upaya menggali potensi-potensi wisata yang ada di Tanoh Gayo.
Pegiat LSM VisTaga terdiri dari unsur Pers, Olahragawan, Pengusaha, PNS, photografer dan mahasiswa. Beberapa waktu yang lalu, Lembaga ini menemukan Anggrek Kantung Semar yang hidup berdampingan di Gunung Oregon.
Sekretaris LSM VisTaga Kh. A. Zaghlul, menyebutkan bahwa Tanoh Gayo kaya dengan potensi wisata, akan tetapi tidak terdata dan terekspose dengan baik kepada dunia luar. Karenanya dengan wadah ini diharapkan akan dapat memberi rekomendasi yang bermanfaat akan potensi-potensi yang ada. Beberapa hari yang lalu kita juga buat kegiatan pembuatan grafiti “Visit Tanoh Gayo 2008” di jalan raya pintu gerbang memasuki kota Takengon, kegiatan ini diprakarsai oleh rekan-rekan LSM serta pihak-pihak yang bersimpati kepada program kita. Dengan dana kumpul-kumpul jadi grafitinya. Mari kita dukung program Visit Aceh Tengah 2008 serunya.
Sementara koordinator trek CABC, Ir. Win. RB, menyebutkan bahwa setiap minggu kita lakukan perjalanan ke tempat-tempat yang punya potensi wisata dan tempat bersejarah. Kita juga terus mengkampayekan Bike to Work (bersepeda ke tempat kerja), Bike for Health (bersepeda untuk sehat) serta Bike for Tourism (wisata dengan bersepeda) sejak PORDA X tahun 2006 yang lalu. Syukurlah kegiatan ini dapat respon positif dari berbagai pihak dan sampai saat ini simpati dan animo terus mengalir ungkap Win. RB.
Hasil perjalanan kami dapat di akses melalui dunia maya dengan alamat antara lain : http://www.gayolinge.com/, gayobicycle.multiply.com dan winbathin.multiply.com tambah Win. RB.
LSM VisTaga dan CABC juga siap menjadi guide bagi wisatawan atau ilmuwan yang berkunjung dan melakukan penelitian di Aceh Tengah. Kedepan kita sudah dan akan jalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam hal penyewaan perlengkapan seperti fasilitas sepeda jenis MTB standar kerjasama dengan ISSI Aceh Tengah, Sepeda Motor, Mobil, perahu tradisional, dan perlengkapan selam (diving) kerjasama dengan POSSI Aceh Tengah dan fasilitas boat kerjasama dengan Instansi Pemerintah terkait. jelas Kh. A. Zaghlul
17 April 2008
Komunitas CABC : Promosikan Wisata Aceh Tengah dengan Sepeda
Kelompok pecinta olah raga bersepeda yang lebih dikenal dengan Central Aceh Bicycle Community (CABC) yang merupakan bagian dari Aceh Bicycle Community, terus mengkampanyekan olah raga bersepeda untuk kesehatan, bersepeda ke tempat kerja serta upaya-upaya promosi wisata tanah Gayo.
Wakil Ketua CABC Takengon, Khalisudin S.Pt, yang sejak PORDA Tahun lalu terus mengembangkan olah raga bersepeda ini, rutin melakukan kegiatan bersepeda seputaran Aceh Tengah, termasuk mengunjungi dan menggali potensi pariwisata yang belum dikelola.Seperti yang dilakukan CABC Aceh Tengah, Minggu (6/4) yang melakukan olah raga bersepeda jenis Mountain Bike ke bagian Selatan Danau dengan Rute Takengon-Rawe pulang pergi.
Dalam kesempatan itu, wartawan Harian Rakyat Aceh juga ikut serta anggota CABC lainnya Munawardi dan Fajar. Aceh Tengah merupakan surga bagi pecinta olah raga bersepeda untuk kesehatan dan untuk kenderaan bekerja. Takengon dengan topografinya yang merupakan kawasan pegunungan telah menjadikan kawasan pegunungan ini banyak dikunjungi pecinta olah raga bersepeda, selain untuk tujuan wisata dan tercatat sejak 2006 telah berkali-kali rombongan Atjeh Bicycle Community (ABC) berkunjung ke Tanah Gayo. ini berkat promosi dan undangan kita sebut Khalisuddin
Seperti saat mengunjungi lokasi air terjun yang sangat indah dan alami di Kampung Rawe Kecamatan Luttawar Takengon. Kearifan lokal masih terlihat disekitar kaki pegunungan Danau ini. Hutan pinus dan hutan asli masih terlihat di pinggir kampung yang dekat dengan aliran sungai meski tampak di dekat air terjun Tensaran Rawe terlihat sudah ada aktivitas penebangan untuk dijadikan kebun kopi warga. Jalan menuju lokasi air terjun Tensaren Rawe belum diaspal dan melewati sawah serta kebun kopi warga setempat.“Jalan alami seperti ini merupakan kesukaan pecinta sepeda”, terang Khalis sambil menggenjot pedal sepedanya pada tanjakan.
Sekitar 4 kilometer dari Kampung Rawe, air terjun Tensaren terlihat sangat indah dengan ketinggian air terjun kurang dari 100 meter yang menimbulkan uap air dan pelangi bila berada dibawah air terjun ini.Semuanya masih terlihat alami. Onggokan kayu dan tanaman lumut terlihat disekitar air terjun. Menurut warga setempat, meski jalan setapak kearah air terjun Tensaren, namun sudah banyak pengunjung yang datang melihat keindahan air terjun ini.Menurut Khalisuddin, sebaiknya jalan menunju Tensaren dibiarkan alami. Namun beberapa lokasi menuju Air terjun sebaiknya dibangun tempat istirahat dan Mushalla. Selebihnya, hutan dan ekosistim Air Terjun Tensaren Rawe sebaiknya dibiarkan alami karena hal itu merupakan daya tarik wisata yang disukai wisatawan local dan Asing.‘Kedepan, air terjun Tensaren Rawe akan dijadikan CABC sebagai salah satu rute kegiatan bersepeda santai. Karena menjanjikan pesona yang indah”, ungkap wakil ketua CABC Takengon. Dijelaskan Khalisuddin, di Aceh Tengah banyak sekali rute kegiatan bersepeda yang bisa dikunjungi setiap saat karena aksesnya dari pusat kota Takengon sangat dekat. Olah raga bersepeda, khususnya Mountain Bike (MTB) sangat cocok di Dataran Tinggi Gayo.
“Dijamin, pecinta olah raga bersepeda akan menemukan tempatnya di Takengon”, jelas Khalisudin yang banyak menerima pecinta olah raga sepeda dari Aceh. Baik warga local ataupun pekerja asing. Karena selain alam yang indah, udara pegunungan Aceh Tengah menjadi tempat tersendiri bagi mereka yang menyukai eksotika alam melalui kegiatan bersepeda (Win Ruhdi Bathin)
DR. Armiadi, M.Sc : Ternak Sapi Bali Takengon Perlu Makanan Tambahan
DR. Armiadi,M.Sc, seorang peneliti ternak dari IPB Bogor yang sedang pulang Kampung ke Takengon, berkesempatan mengunjungi Dusun Paya Serngi Kampung Timangan Gading Kecamatan Kebayakan. Dalam kunjungan ke Kampung di pinggiran Kota Takengon ini, DR. Armiadi diminta warga setempat untuk memberi penyuluhan tidak resmi terhadap pola peternakan sapi bali yang umum dilakukan warga setempat.Dalam kesempatan berdiskusi tersebut, Selasa (15/4) warga menceritakan pola beternak sapi bali dan makanan yang diberikan.
Setelah mendengar berbagai keluhan warga, menurut DR.Armiadi, peternak sapi bali di seputaran Takengon masih memakai pola tradisional.Dimana sapi hanya diikat kemudian sore harinya dikandangkan dengan memberi makanan tambahan rumput. “Rumput saja tidak cukup. Karena masih banyak zat kebutuhan sapi yang tidak terdapat dalam rumput hingga perlu diberi makanan tambahan dari unsur lain (mikro)”, ujar Armiadi pada sejumlah warga.Unsur selain rumput tersebut kata peneliti ternak dari IPB ini, bisa didapat dari makanan tambahan seperti dari Milton yang bisa didapat dan diperjualbelikan serta konsentrat.
Dikatakan Armiadi, petani yang memelihara ternak sejenis sapi bali telah menghasilkan keuntungan ganda.Keuntungan tersebut rinci Armiadi antara pupuk kandang yang dapat dipakai untuk pertanian warga serta kebutuhan lainnya. Seperti dijual yang dipakai untuk pupuk bunga.Setelah mengamati berbagai masukan dari warga peternak, Armiadi menyatakan bahwa pengetahuan dasar peternak tentang pemeliharaan ternak masih sangat kurang sehingga perlu diberi penyuluhan intensif agar pengelolaan ternak dapat dijadikan komoditas unggulan selain pertanian.Hanya saja, kata Armiadi, ternak bali tidak bisa disamakan pemeliharaannya dalam lokasi yang sama dengan domba karena bisa menimbulkan penyakit bagi sapi yang disebut MCF. “Virus ini sejenis virus HIV yang belum ada obatnya”, ujar Armiadi.
Di tempat yang sama, Khalisudin S.Pt, Pegawai Peternakan Aceh Tengah yang mendampingi Armiadi menyatakan, Kampung Paya Serngi selama ini sudah dikenal sebagai lokasi peternakan yang disebut VBC (Village Breeding Center) dan terus berkembang yang dilakukan oleh warga. “Dari 200 Kepala Keluarga, 95 diantaranya memiliki hewan peliharaan atau ternak”, ujar Khalis. Namun masih ditemukan beberapa kekurangan dalam pemeliharaan ternak, jelas Khalis, umpamanya, belum adanya kelompok tani ternak yang memudahkan pencapaian tujuan usaha ternak serta membuka akses ke pihak pemerintah maupun swasta. Selain itu, kekurangan lainnya adalah belum diterapkannya tehnologi pakan ternak dan management kandang yang baik.
Menyangkut kandang, kata Khalis, masih berpola sangat tradisonal bahkan dinilai setengah penganiayaan pada ternak. Karena banyak ternak yang meski mempunyai kandang namun dibiarkan tanpa lantai sehingga ternak berada dalam kubangan. “Masyarakat juga belum mempunyai Hijauan Makanan Ternak (HMT) unggul. Sehingga masih mengandalkan rumput alam (Native grass) saja. Imbuh Khalis.
Khalis menyarankan perlunya pengembangan dan penerapan tehnologi reproduksi ternak di Aceh Tengah seperti Inseminasi Buatan (IB) atau minimal pengaturan kawin alam yang lebih intensif . Menyinggung makanan tambahan atau konsentrat, menurut Khalisudin bahan bakunya cukup melimpah di Takengon, seperti, kulit kopi kering, ampas tebu dan limbah pertanian seperti batang jagung, kacanga-kacangan dan jerami padi (www.gayolinge.com)
Setelah mendengar berbagai keluhan warga, menurut DR.Armiadi, peternak sapi bali di seputaran Takengon masih memakai pola tradisional.Dimana sapi hanya diikat kemudian sore harinya dikandangkan dengan memberi makanan tambahan rumput. “Rumput saja tidak cukup. Karena masih banyak zat kebutuhan sapi yang tidak terdapat dalam rumput hingga perlu diberi makanan tambahan dari unsur lain (mikro)”, ujar Armiadi pada sejumlah warga.Unsur selain rumput tersebut kata peneliti ternak dari IPB ini, bisa didapat dari makanan tambahan seperti dari Milton yang bisa didapat dan diperjualbelikan serta konsentrat.
Dikatakan Armiadi, petani yang memelihara ternak sejenis sapi bali telah menghasilkan keuntungan ganda.Keuntungan tersebut rinci Armiadi antara pupuk kandang yang dapat dipakai untuk pertanian warga serta kebutuhan lainnya. Seperti dijual yang dipakai untuk pupuk bunga.Setelah mengamati berbagai masukan dari warga peternak, Armiadi menyatakan bahwa pengetahuan dasar peternak tentang pemeliharaan ternak masih sangat kurang sehingga perlu diberi penyuluhan intensif agar pengelolaan ternak dapat dijadikan komoditas unggulan selain pertanian.Hanya saja, kata Armiadi, ternak bali tidak bisa disamakan pemeliharaannya dalam lokasi yang sama dengan domba karena bisa menimbulkan penyakit bagi sapi yang disebut MCF. “Virus ini sejenis virus HIV yang belum ada obatnya”, ujar Armiadi.
Di tempat yang sama, Khalisudin S.Pt, Pegawai Peternakan Aceh Tengah yang mendampingi Armiadi menyatakan, Kampung Paya Serngi selama ini sudah dikenal sebagai lokasi peternakan yang disebut VBC (Village Breeding Center) dan terus berkembang yang dilakukan oleh warga. “Dari 200 Kepala Keluarga, 95 diantaranya memiliki hewan peliharaan atau ternak”, ujar Khalis. Namun masih ditemukan beberapa kekurangan dalam pemeliharaan ternak, jelas Khalis, umpamanya, belum adanya kelompok tani ternak yang memudahkan pencapaian tujuan usaha ternak serta membuka akses ke pihak pemerintah maupun swasta. Selain itu, kekurangan lainnya adalah belum diterapkannya tehnologi pakan ternak dan management kandang yang baik.
Menyangkut kandang, kata Khalis, masih berpola sangat tradisonal bahkan dinilai setengah penganiayaan pada ternak. Karena banyak ternak yang meski mempunyai kandang namun dibiarkan tanpa lantai sehingga ternak berada dalam kubangan. “Masyarakat juga belum mempunyai Hijauan Makanan Ternak (HMT) unggul. Sehingga masih mengandalkan rumput alam (Native grass) saja. Imbuh Khalis.
Khalis menyarankan perlunya pengembangan dan penerapan tehnologi reproduksi ternak di Aceh Tengah seperti Inseminasi Buatan (IB) atau minimal pengaturan kawin alam yang lebih intensif . Menyinggung makanan tambahan atau konsentrat, menurut Khalisudin bahan bakunya cukup melimpah di Takengon, seperti, kulit kopi kering, ampas tebu dan limbah pertanian seperti batang jagung, kacanga-kacangan dan jerami padi (www.gayolinge.com)
11 April 2008
senam siswa di Owaq, linge, aceh tengah
Edysaputra, S.Pd, guru olahraga PNS pengangkatan tahun 2008. memulai pengabdiannya di SMPN 24 Kampung Owaq Kecamatan Linge melatih senam kesegaran jasmani bagi siswanya. sebelumnya siswa SMP ini belum mengenal senam kesegaran jasmani.
Siswa/ siswi sekolah tersebut sebagian adalah anak-anak Peternak Ketapang.
Menurut Edy, disana minim fasilitas pendukung pendidikan seperti fasilitas praktek serta tidak adanya sumber air bersih. masyarakat umumnya buang hajat disungai tanpa dinding pembatas...
10 April 2008
Mencacah Rumput
08 April 2008
muniru
Langganan:
Postingan (Atom)




